Selasa, 09 Desember 2014

Teori Manajemen Konflik


Pengertian Manajemen Konflik

Menurut Johnson (Supraktiknya, 1995) konflik merupakan situasi dimana tindakan salah satu pihak berakibat menghalangi, menghambat, dan mengganggu tindakan pihak lain. Apabila dua orang individu masing-masing berpegang pada pandangan yang sama sekali bertentangan satu sama lain, tidak pernah berkompromi, dan saling menarik kesimpulan berbeda-beda, serta apabila orang yang berkonflik cenderung bersifat tidak toleran, maka dapat dipastikan akan timbulnya konflik tertentu ( Winardi, 1994).
Meskipun unsur konflik selalu terdapat dalam setiap bentuk hubungan antar pribadi termasuk dalam perkawinan, pada umumnya masyarakat memandang konflik sebagai keadaan yang buruk dan harus dihindarkan. Konflik dipandang sebagai faktor yang akan merusak suatu hubungan harus dicegah.
Konflik dapat didefinisikan sebagai peristiwa sosial yang mengandung penentangan atau ketidaksetujuan (Lestari, 2012). Thomas (dalam Lestari, 2012) mendefinisikan konflik sebagai proses yang bermula saat salah satu pihak menganggap pihak lain menggagalkan atau berupaya menggagalkan kepentingannya.
Menurut Supraktiknya (1995) sesungguhnya rusaknya suatu hubungan lebih disebabkan oleh kegagalan memecahkan konflik secara konstruktif, adil, dan memuaskan kedua belah pihak, bukan oleh munculnya konflik itu sendiri. Apabila konflik dapat dikelola secara konstruktif, konflik justru dapat memberikan manfaat positif bagi individu maupun bagi hubungan individu dengan orang lain. Konflik dapat menjadikan orang sadar bahwa ada persoalan yang perlu dipecahkan dengan orang lain, konflik dapat menyadarkan dan mendorong untuk melakukan perubahan-perubahan yang lebih baik.



Hati-hati dengan prilaku langsung mengcopy paste/ plagiarisme, melanggar undang-undang!
Tag: Manajemen Konflik,
Share on :


Related post:


0 komentar:

Posting Komentar

Ingin berkomentar tapi gak punya blog? pilih "Anonymous" di 'kolom Beri Komentar Sebagai'. Komentar anda akan segera muncul.