Selasa, 25 November 2014

Ketika Cinta Menyapa

Assalamu’alaikum sobat semua...
Apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT, Aamiin..
Sudah lama banget rasanya tidak aktif di dunia blogging. Baiklah, kali ini saya akan membahas tentang sesuatu yang sudah tidak asing lagi di kehidupan teman-teman. Ya, tentang sesuatu yang kita sebut dengan CINTA. Di industri musik, di film atau sinetron, curhat bareng teman, sampai ke halaqah juga kadang membahas tentang cinta. Ada apa dengan Cinta dan Rangga? (Eh, Rangga nya gak ikutan ding, cukup cinta aja yang dibahas. Maaf kebawa suasana iklan Line, hehehe)

Nah, pertanyaannya adalah “Pernahkah teman-teman jatuh Cinta? ”
Kebanyakan orang pasti akan menjawab “PERNAH...!” *menjawab dengan semangat :)
Kemudian untuk type orang yang malu-malu, ia akan menjawab pelan atau di dalam hati “Gue juga pernah..” sambil tersipu malu.
Dan mungkin juga ada orang yang akan menjawab “Aku gak pernah kok, gak pernah, pokoknya aku GAK PERNAH [titik] ” (Dih, kamu kenapa? Kok segitu ngamuknya.. :D )

Oke , kita langsung ke intinya aja ya.. gak perlu kan tanya “ kapan pertama kalinya kamu jatuh cinta? Di SD, SMP, SMA, Kuliah, atau jangan-jangan pas masih TK?  Hahaha, ganjen banget.

Siip, sebenarnya jatuh cinta itu wajar dan normal. Tapi walaupun begitu, kita harus bisa juga me-menej-nya, mengaturnya, mengontrolnya, mengarahkannya, dan mendidiknya. Mengarahkan kemana? Tentunya mengarahkan ke arah yang tepat, arah yang sesuai dengan pedoman hidup atau agama kita. Mendidiknya agar cinta tak berubah menjadi nafsu terselubung. Buat temen-temen yang pacaran, saya tidak bermaksud menyinggung ataupun maksud negatif lainnya. Saya hanya sedikit share tentang sesuatu yang saya pahami. Jadi silahkan baca sampai habis ya, jangan buru-buru ngambil kesimpulan. *keep smile*

Ketika jatuh cinta, apa yang harus kita lakukan? Apakah harus diungkapkan? berpacaran?
Seseorang yang jatuh cinta, kemungkinan ia merasakan adanya ‘bisikan-bisikan’. Contohnya, merasakan takut akan kehilangannya, kalau gak diungkapkan nanti malah diduluin sama orang lain, takut terkena serangan jatung kalo kelamaan dipendam (yang ini parah banget :D), udah gak sanggup mendamnya karna hatinya terus-terusan manggil nama dia, dan lain-lain.. temen-temen pasti bisa menambahkannya.

Orang yang jatuh cinta cenderung kurang berfungsi atau bahkan mati logikanya, ia terhanyut oleh perasaan. Gak heran kalau ada yang  berkata “ gak papa gak ketemu orangnya, liat motornya pun jadilah..”, “gak papa gak ketemu orangnya, liat status fesbuk nya pun jadilah..”, "biarlah gak ketemu orangnya, liat atap rumahnya pun jadi", dan masih banyak lagi contoh lebay lainnya, yang pada intinya semua itu hanyalah permainan perasaan.

Untuk menjawab pertanyaan “ Ketika Jatuh cinta, apakah harus diungkapkan? ”. Ada salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang membahas tentang cinta.
“ Kami tidak pernah melihat obat terbaik bagi dua orang yang saling mencintai kecuali menikah (HR. Ibnu Majah) “

Nah, sudah ketemu jawabannya kan?
Jadi, kalaupun perlu diungkapkan tentunya kita sudah mempunyai pandangan ke arah mana cinta itu ‘dilepaskan’. Apakah ke arah berpacaran? Tentu tidak.
Ketika teman-teman jatuh cinta dan merasa sudah mempunyai arah yang jelas, yaitu pernikahan, silahkan teman-teman ungkapkan perasaan tersebut. Tentunya dengan cara yang Syar’i atau minimal tidak melanggar aturan.
Tapi kalau belum ada gambaran ke arah pernikahan, hanya iseng dan mengikuti perasaan, lalu buat apa diungkapkan? Apakah itu tidak menambah masalah baru yang akan menyakiti perasaan?
Sebesar apapun cinta yang dirasakan, tetaplah kokoh untuk merahasiakan. Tak perlu diungkapkan. Biarkanlah cinta itu bersemi dalam diam, perbanyak doa dari kejauhan. Belajar mengikuti iman, jangan ikuti perasaan.
Jagalah hatimu dan hatinya. Biarkan waktu yang menjawabnya, apakah perasaan itu tumbuh semakin mekar atau semakin memudar.

*****
Ketika ada seseorang yang mengajak untuk berpacaran, maka jangan ragu untuk menolaknya. Percayalah, ketika seorang perempuan berusaha keras untuk menolak berpacaran, laki-laki akan menilaimu jauh lebih mulia. Engkau adalah perempuan yang sangat menghormati kesucian cinta. Bahwa cinta yang mulia adalah cinta yang ada setelah akad terlaksana.

Kita mungkin pernah melakukan kesalahan, tapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Segera menuju arahNya yang lebih baik...

Saya tutup tulisan singkat ini dengan quotes:
“Ketika belum waktunya, cinta itu di puasa kan, bukan dipuaskan.”

“Ketika jatuh cinta, halalkan atau haramkanlah ia.”
*halalkan = menikah | Haramkan = tinggalkan/abaikan

Semoga bermanfaat..
Mohon maaf bila ada kesalahan, hanya ingin menguatkan dan memperbaiki diri kita untuk selalu berada di jalanNya. Bukan bermaksud menggurui apalagi menyakiti.
Silahkan di share jika bermanfaat dan beri komentar dibawah :)

By: Atrof Ardians
Share on :


Related post:


1 komentar:

Anonim mengatakan...

bagus bang, tambahin artikel cintanya yap.... :D

Posting Komentar

Ingin berkomentar tapi gak punya blog? pilih "Anonymous" di 'kolom Beri Komentar Sebagai'. Komentar anda akan segera muncul.