Sabtu, 05 April 2014

Makalah Gangguan TIC: Tanda dan Gejala





A.     Tanda dan Gejala TIC
Gejala diawali saat kanak-kanak dan remaja, seperti gerakan kedipan mata, menggerakan kepala tanpa sebab atau menghentak-hentakkan kaki. Beberapa contoh untuk gangguan vokal misalnya berdehem, mendecakkan lidah, menjerit atau merintih. Orang cenderung mengira, penderita tic-tourette cenderung meneriakkan kata-kata kurang sopan setiap saat. Padahal itu hanya sedikit gejala saja yang dialami oleh sebagian penderita, disebut dengan “coprolalia”. Kasus yang lebih sering adalah penderita cenderung mengucapkan kata-kata yang sama setiap saat, dinamakan “echolalia”.
Ciri khas terpenting yang membedakan tic dari gangguan motorik lainnya ialah gerakan yang mendadak, cepat, sekejab dan terbatasnya gerakan, tanpa bukti  gangguan neurologis yang mendasari; sifatnya yang berulang-ulang (biasanya) terhenti  saat tidur; dan mudahnya gejala itu ditimbulkan kembali atau ditekan dengan kemauan. Kurang beriramanya “tic” itu yang membedakannya dari gerakan  yang sterotipik berulang yang tampak pada beberapa kasus autism dan retardasi mental. Akivitas motorik manneristik yang tampak pada gangguan ini cenderung mencakup gerakan yang lebih rumit dan lebih bervariasi daripada gejala “tic”. Gerakan obsesif kompulsiif sering memnyerupa “tic” yang kompleks namun berbeda karena bentuknya cenderung ditentukan oleh tujuannya (misalnya menyentuh atau memutar benda secara berulang) dari pada oleh kelompok otot yang terlibat; walaupun demikian acapkali sulit juga untuk membedakannya.

B.     Etiologi
Tics diyakini hasil dari disfungsi tripartit dalam sistem saraf pusat. teknik Imaging telah menggejala ganglia basal dan korteks frontal dalam patogenesis sindrom Tourette's. Kedua sumber abnormalitas diperkirakan tidak pantas menjadi peraturan neurotransmiter, terutama dopamin bukti kuat menunjukkan kelebihan dopamin atau supersensitivity dari dopamin postsynaptic reseptor adalah mekanisme yang mendasari pathophysiologic's sindrom Tourette.

C.      Epidemiologi / Prevalensi
Sebuah komunitas, yang berbasis penelitian besar menunjukkan bahwa lebih dari 19% dari anak-anak usia sekolah memiliki gangguan tic. Anak-anak dengan gangguan tic dalam penelitian yang biasanya terdiagnosis. Sebanyak 1 dalam 100 orang mungkin mengalami beberapa bentuk gangguan tic, biasanya sebelum masa pubertas. Tourette sindrom adalah ekspresi lebih parah dari spektrum gangguan tic, yang dianggap disebabkan oleh kerentanan genetik yang sama. Perilaku tic umum di kalangan anak-anak usia sekolah. Anak laki-laki dua kali lebih mungkin akan terpengaruh oleh gangguan tic berbanding perempuan.

D.     Hasil Laboratorium dan Imaging
Neuropathological dan studi neurokimia berimplikasi kelainan pada ganglia basal dan sirkuit CSTC dalam patogenesis TS. Pada MRI volumetrik, individu dengan TS memiliki volume berekor lebih kecil dari kontrol normal. Berkurangnya volume berekor pada anak-anak dengan TS telah dikaitkan dengan keparahan tic dan OCD meningkat di masa dewasa. Neuroimaging fungsional telah mengungkapkan peningkatan aktivasi korteks frontal dan berekor selama supresi tics yang disengajakan. Peningkatan aktivasi pada cortex frontal dan nucleus caudate berkorelasi dengan aktivitas penurunan putamen, globus, pallidus, dan talamus. Positron studi tomografi emisi di TS telah menunjukkan peningkatan reseptor dopamin striatal dan kepadatan transporter dan pelepasan dopamin meningkat akibat amfetamin di putamen tersebut.

E.      Intervensi
Belum ditemukan pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini, namun metode terapi dan relaksasi ditemukan banyak membantu penderita mengurangi “ticks” mereka.

Psikoterapi untuk Tic dan Sindrom Tourette
Sejak beberapa dekade yang lalu, haloperidol sering digunakan sebagai obat untuk mengendalikan gejala pada penderita sindrom Tourette, tetapi beberapa efek samping yang ditimbulkan telah menurunkan frekuensi penggunaan obat tersebut. Farmakoterapi lainnya antara lain penggunaan pimozide, clonazepam, dan clonidine (Brown & Sammons, 2002, Robertson, 2000). Sebuah penelitian memprediksi bahwa 70% penderita sindrom Tourette akan mengalami pengurangan gejala saat penderita memasuki usia remaja akhir, dan 30%-40% penderita akan mengalami kesembuhan total saat melewati usia dewasa akhir (Dhamayanti, dkk., 2004), namun gejala dapat muncul kembali ataupun menjadi semakin parah akibat stressor-stresor psikologis. Penelitian lainnya menyebutkan bahwa mayoritas penderita sindrom Tourette dapat hidup tanpa terapi obat (Dhamayanti, dkk., 2004). Asumsi-asumsi tersebut dapat menjadi dasar bagi penggunaan psikoterapi sebagai salah satu penunjang bagi penderita sindrom Tourette untuk dapat mengoptimalkan potensinya dan hidup dengan cara-cara yang adaptif.
Tujuan utama dari psikoterapi untuk penderita sindrom Tourette adalah agar ia mampu mengembangkan strategi koping yang positif. Beberapa pendekatan terapi yang memungkinkan untuk diterapkan pada penderita sindrom Tourette antara lain adalah sebagai berikut:

Pendekatan Kognitif Behavioral – Habit Reversal (Wilhelm, dkk., 2003, Piacentini, 2004)
Komponen-komponen utama dari pendekatan ini adalah:
§  Latihan kesadaran (awareness training)
§  Pemantauan diri (self-monitoring), misalnya menghitung sebelum terjadinya gejala
§  Latihan relaksasi, misalnya relaksasi otot, pernapasan, imajinasi, dsb. setiap hari selama 10-15 menit, dan dipraktekkan selama 1-2 menit setiap muncul kecemasan atau setelah muncul tics
§  Prosedur ‘melawan’ respon
Memikirkan respon tertentu yang inkompatibel dengan tic, berlawanan dengan gerakan, dapat dipertahankan selama beberapa menit, memunculkan tekanan otot yang sama dengan yang terjadi saat gerakan tic muncul, tidak terlalu mencolok, serta menguatkan otot yang antagonis dengan tic.
§  Manajemen kontingensi
  • Terapis menginstruksikan keluarga klien untuk memberikan komentar berupa penghargaan jika klien menunjukkan kemajuan dan terus mengingatkan jika klien lupa untuk berlatih
  • Klien diikutsertakan dalam aktivitas-aktivitas menyenangkan yang sudah mulai jarang dilakukan
§  Reviu ketidaknyamanan, berisi reviu ketidaknyamanan, rasa malu, serta kesulitan-kesulitan klien yang diakibatkan oleh munculnya gejala



Psikoterapi Suportif (Wilhelm, dkk., 2003)
Terapi ini lebih mengarah pada pendekatan humanistik (khususnya Gestalt) di mana terapis diharapkan untuk tidak bersikap direktif, dan penderita sindrom Tourette memfokuskan diri pada pengalaman-pengalamannya, merefleksikan serta mengekspresikan perasaan-perasaannya terkait dengan cara hidup dan cara menyelesaikan masalah.

Hipnoterapi (Kohen & Botts, 1987)
Penderita sindrom Tourette dilatihkan bagaimana menghipnosis diri sendiri dalam rangka mengendalikan kebiasaan, gejala fisik, dan kondisi-kondisi lainnya. Hipnoterapi juga menggunakan teknik-teknik relaksasi dan imajinasi, sebagaimana yang sering dilakukan pada meditasi.
Dalam keadaan terhipnosis, terapis memberi sugesti yang mengarah pada perubahan perilaku, penurunan kecemasan, dan intensitas gejala.

Teknik-teknik berbasis Psikoanalisis (Bruun, dkk., 1994)
Ketidakmampuan dalam mengendalikan tubuh dan pikiran sendiri seringkali menjadi sumber kecemasan, ketakutan, rasa bersalah, rasa tidak berdaya, kemarahan, dan depresi. Sebagian penderita menghadapinya dengan menarik diri, dan sebagian lagi dengan agresivitas. Reaksi sosial yang negatif pun seringkali tak terhindarkan. Harga diri dan kepercayaan diri menjadai permasalahan yang umum pada penderita sindrom Tourette, sebagaimana yang sering dialami oleh pasien dengan penyakit-penyakit kronis. Terapi psikoanalisis lebih memfokuskan pada permasalahan-permasalahan seputar penerimaan diri.

Terapi keluarga (Bruun, dkk., 1994)
Sebagai gangguan yang kronis, sindrom Tourette juga berdampak pada keluarga penderita. Orang tua seringkali harus menghadapi saat-saat sulit ketika anak menunjukkan gejala. Permasalahan yang muncul dalam keluarga dapat berupa:


  • Rasa bersalah orang tua atas kelainan genetik
  • Sulitnya bagi anggota keluarga untuk mengetahui gejala-gejala yang mana yang dapat dan yang tidak dapat dikendalikan
  • ‘Ketidakadilan’ yang dipersepsi oleh saudara baik itu adik maupun kakak dari penderita
  • Relasi yang memburuk antara suami istri
Terapi keluarga hendaknya difokuskan pada peran penderita sindrom Tourette dalam keluarga, dimana ia sering menerima perlakuan-perlakuan sebagai berikut:
  • Overproteksi dari orang tua/anggota keluarga
  • Dihukum
  • Tidak dipahami perasaan/pikirannya
  • Dianggap sebagai sumber aib
Terapis berfungsi sebagai fasilitator bagi keluarga agar dapat belajar menerima anggota keluarga dengan sindrom Tourette, sehingga ia dapat merasa aman dan mampu menghadapi lingkungannya dengan lebih adaptif.
Sebagai langkah awal terapi, keluarga perlu diberi informasi dan dipahamkan tentang berbagai aspek dari gangguan sindrom Tourette. Tujuan akhir dari terapi adalah keluarga mampu membangun sebuah lingkungan yang mendukung bagi penderita sindrom Tourette, dan dapat berlaku fleksibel dalam memfasilitasi sehingga tidak terlalu overprotektif.

Intervensi akademik dan okupasional (Bruun, dkk., 1994)
Anak dengan sindrom Tourette biasanya mengalami kesulitan dalam hal konsentrasi, perhatian, dan belajar sehingga membutuhkan intervensi pendidikan khusus, misalnya pengajar khusus, kelas khusus, labboratorium khusus, dsb., yang disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala. Sekolah perlu diinformasikan mengenai sindrom Tourette, karena seringkali sekolah tidak memahami gangguan tersebut sehingga penderita dicap sebagai anak nakal, mengganggu, dan bodoh. Umumnya penderita sindrom Tourette tidak mampu menjalankan fungsi mental dan sosial sesuai dengan usia kronologisnya, atau mengalami perlambatan dalam perkembangannya (Barkley, 1991).
Orang dewasa dengan sindrom Tourette seringkali membutuhkan modifikasi khusus pada lingkungan kerjanya. Perlu untuk membangun pemahaman pada lingkungan kerja tentang gangguan yang diderita. Fleksibilitas, kepedulian, serta produktifitas dalam pekerjaan dapat ditingkatkan dengan intervensi yang tepat bagi penderita yang sangat simtomatik sekalipun.

Makalah GANGGUAN TIC


A.     Pengertian
Tic adalah suatu gerakan motorik (yang lazimnya mencakup suatu kelompok otot khas tertentu) yang tidak di bawah pengendalian, berlangsung cepat, dan berulang-ulang, tidak berirama, ataupun suatu hasil vocal yang timbul mendadak  dan tidak memiliki tujuan yang nyata.
Tic terbagi menjadi tic motorik dan tic vocal. Tic jenis motorik dan jenis vocal mungkin dapat dibagi dalam golongan yang sederhana dan yang kompleks, sekalipun penggarisan batasannya kurang jelas.
Tic seringkali terjadi sebagai fenomena tunggal namun tidak jarang disertai variasi gangguan emosional yang luas, khususnya, fenmena obsesi dan hipokondrik. Namun ada pula beberapa hambatan perkembangan khas disertai “tic”. Tiidak terdapat garis pemisah  yang jellas antara gangguan “Tic” dengan berbagai gangguan emosional dan gangguan emosional disertai “tic”. Diagnosisnya mencerminkan gangguan utamanya.

B.     Kriteria menurut DSM IV TR
·          Baik beberapa motor dan satu atau lebih vokal tics telah hadir di beberapa waktu selama sakit, meskipun tidak selalu bersamaan.
·          Tics terjadi berkali-kali sehari (biasanya dalam serangan) hampir setiap hari atau sebentar-sebentar selama jangka waktu lebih dari satu tahun, dan selama periode ini tidak pernah ada periode bebas tic lebih dari tiga bulan berturut-turut.
·          Gangguan menyebabkan distress yang ditandai atau penurunan yang signifikan dalam sosial, pekerjaan atau lainnya penting bidang berfungsi.
·          Onset adalah sebelum usia 18 tahun.
·          Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, stimulan) atau kondisi medis umum.


C.      Klasifikasi Tics
*      Gangguan Tic Transien
Satu atau beberapa motor dan / atau vokal tics. Tic ini terjadi berkali-kali sehari, hampir setiap hari selama sedikitnya 4 minggu, tetapi tidak lebih dari 12 bulan berturut-turut. Onset adalah sebelum usia 18 tahun. Gangguan ini bukan karena efek fisiologis zat atau kondisi medis umum. Kriteria tidak pernah bertemu untuk gangguan Tourette atau motor kronis atau Vocal Tic Disorder
*      Gangguan Tic Kronis
disebut juga vokal Motor tunggal atau beberapa atau tics vokal hadir beberapa waktu selama penyakit. Tic terjadi beberapa kali sehari hampir setiap hari atau sebentar-sebentar selama jangka waktu lebih dari satu tahun dan selama periode ini tidak pernah ada periode tic-bebas lebih dari 3 bulan berturut-turut. Onset adalah sebelum usia 18 tahun. Gangguan ini bukan karena efek fisiologis zat atau kondisi medis umum. Kriteria tidak pernah bertemu untuk gangguan Tourette. 
*      Sindroma Tourette
Gangguan Tourette Kehadiran kedua motor berganda dan satu atau tics vokal lebih selama sakit. Tic ini terjadi berkali-kali sehari hampir setiap hari atau sebentar-sebentar selama jangka waktu lebih dari satu tahun dan selama periode ini tidak pernah ada periode tic-bebas lebih dari 3 bulan berturut-turut. Onset adalah sebelum usia 18 tahun. Gangguan ini bukan karena efek fisiologis zat atau kondisi medis umum.
Terdapat gangguan penyampaian syaraf dalam bahan kimiawi otak yang menyebabkan gangguan atau perilaku tak wajar dari penderita yang kerap disebut “ticks”. Penyakit ini cukup banyak ditemukan, dan diantaranya mempengaruhi 1 dari 100 orang dari berbagai lapisan masyarakat, bangsa maupun ras.
ADHD; sindroma Tourette
Memang, sebagian besar anak ADHD dan kelainan obsesif kompulsif juga menderita sindroma Tourette. Namun, bukan berarti sindroma Tourette merupakan penyakit yang berkaitan dengan inteligensia atau keterbelakangan mental. Gangguan ini murni akibat kelainan proses penyampaian perintah oleh neurotransmitter dalam otak.
Tak ada kaitan dengan kemampuan ingatan maupun kecerdasan. Kebanyakan kekurangan anak sindroma Tourette di bidang akademis ini disebabkan karena ia mengalami masalah sosial dengan lingkungan sekolah.
Beberapa literatur menyebutkan, kelainan sindroma Tourette bisa didapat secara genetik atau keturunan. Keturunan yang dimaksud tak harus didapat langsung dari ayah atau ibu, namun bisa didapat secara riwayat keluarga. Maka, dokter juga akan menelusuri riwayat keluarga untuk menegakkan diagnosa. Selain keturunan, tic juga bisa didapat akibat infeksi penyakit. Misalnya, saat masih bayi pernah terinfeksi bakteri streptococcus haemolyticus grup A. Bakteri ini memiliki protein yang sama dengan protein di area basal ganglia di otak pengatur gerakan. Akibatnya, antibodi yang dibentuk untuk menghalau bakteri ini dapat menyerang area itu, yang menghasilkan gerakan-gerakan tak terkontrol.
Beberapa kondisi berkaitan dengan persalinan juga dapat menambah peluang terjadinya sindroma Tourette, dengan riwayat keluarga pembawa gen sindroma Tourette. Misalnya, hipoksia akibat persalinan macet, berat badan lahir rendah, cedera otak akibat persalinan tak lancar, ibu yang mengalami mual-muntah berat, mengonsumsi alkohol, kopi, dan merokok berlebihan di trimester pertama.
*      Tic Disorder NOS
Gangguan Tic Dinyatakan Tidak Ditentukan Kategori ini adalah untuk gangguan dicirikan oleh tics yang tidak memenuhi kriteria untuk Tic Disorder tertentu. Contohnya termasuk tics yang berlangsung kurang dari 4 minggu atau tics dengan onset setelah usia 18 tahun

Kamis, 03 April 2014

Teori Psikologi Tentang Gangguan Mood



1.    Teori psikoanalisis Depresi
Dalam tulisannya yang terkenal “ Mouring and Melancholia”, Freud (1917/1950) berteori bahwa potensi depresi diciptakan pada awal masa kanak – kanak. Dalam periode oral, kebutuhan seseorang anak dapat kurang dipenuhi atau dipenuhi secara berlebihan sehingga menyebabkan seseorang terfiksasi pada tahap ini dan tergantung pada pemenuhan kebutuhan instingtual yang menjadi ciri tahap ini. Dengan terbawanya kondisi tersebut, orang yang bersangkutan dapat memiliki kecendrungan untuk sangat tergantung pada orang lain untuk mempertahankan harga dirinya.
Freud mengemukakan hipotesis bahwa setelah kehilangan seseorang yang dicintai, apakah karena kematian atau yang paling umum terjadi pada anak – anak, perisahan atau berkurangnya kasih sayang, orang yang bersangkutan kemudian meleburkan dirinya dengan orang yang meninggalkannya, mungkin sebagai upaya sia – sia untuk mengembalikan kehilangan tersebut. Karena freud berpendapat bahwa secara tidak sadar kita menyimpan berbagai perasaan negative terhadap orang – orang yang kita cintai, orang yang bersangkutan kemudian menjadi objek kebencian dan kemarahan nya sendiri.
Teori itu merupakan dasar pandangan psikodinamika yang di terima secara luas yang menganggap depresi sebagai kemarahan terpendam yang berbalik menyerang diri.


2.    Teori Kognitif Depresi
Berbagai teori kognitif mengenai depresi merupakan teori yang paling aktif di teliti dalam berbagai studi :
a.    Teori Beck Mengenai Depresi.
Teori kontemporer terpenting yang menganggap proses – proses berfikir sebagai faktor penyebab depresi adalah teori Aaron Beck (1967,1987). Pemikiran sentral nya adalah bahwa orang – orang yang depresi memiliki perasaan seperti demikian karena pemikiran mereka menyimpang dalam bentuk interpretasi negative. Individu yang depresi mengembangkan skemata yang negative melalui kehilangan orang tua, tragedi yang tak ada hentinya, penolakkan sosial dari teman sebaya, kritik dari guru, atau sikap depresif dari orang tua.
Berikut beberapa penyimpangan kognitif utama pada individu yang depresi menurut Beck :
1.    Kesimpulan yang subjektif ( arbitrary inference)
2.    Abstraksi selektif ( selective abstraction)
3.    Overgeneralisasi
4.    Magnifikasi dan minimisasi

b.    Teori ketidakberdayaan / keputusasaan yaitu situasi dimana individu mengalami kegagalan, maka ia akan menjelaskan kegagalan tersebut karena beberapa penyebab.
c.    Atribusi dan Learned Helplessness dari Martin Seligman yaitu depresi yang berkembang dan berhubungan dengan pandangan pesimis individu terhadap masa depan

d.    Teori keputusasaan yaitu menganggap depresi disebabkan keputusasaan, suatu perkiraan bahwa hasil yang diharapkan tidak akan tercapai atau hal yang tidak diinginkan akan terjadi dan individu tidak dapat mengubah situasi tersebut.
3.  Teori Interpersonal Depresi
Orang yang depresi mengalami jaringan sosial yang terpisah dan menganggap mereka kurang memberikan dukungan yaitu mengurangi kemampuan individu untuk mengatasi peristiwa hidup yang negative. Individu mungkin kurang memiliki keterampilan sosial (Lewinsohn,1974), kurang mampu mengatasi masalah, buruk pola pembicaraan. Dan memelihara kontak mata (Gotlib, 1982), mengalami banyak tekanan( Hammen,1991).
4.  Teori Biologis
Pada tingkat yang lebih sederhana , gangguan mood dapat menyebabkan perubahan fisik, seperti gangguan selera makan dan pola tidur. Akibat yang lebih kompleks merupakan pengaruh dari proses biologis pada perasaan depresi dan kesenangan.
a.    Genetik
Bukti yang kuat terhadap pentingnya contributor biologis terhadap gangguan mood berasal dari penelitian mengenai genetic. Observasi yang menyatakan jika gangguan tersebut diturunkan dalam keluarga dapat dipastikan. Orang yang anggota keluarganya memiliki gangguan depresi mayor memiliki kemungkinan dua kali besar mengembangkan gangguan depresif dibandingkan dengan orang pada umumnya( Sullivan, Neala, & Kendler, 2000)
Bukti kuat yang paling kuat yang mendukung dasar genetic dari gangguan depresi mayor berasal dari analisis pada penemuan dari lima penelitian berskala yang meneliti pola keturunan pada keluarga.

b.  Faktor Biokimia
     Mekanisme biokimia yang secara genetic dapat memengaruhi orang dengan resiko tinggi untuk menderita depresi atau periode manik masih belum diketahui. 
Penanganan gangguan perasaan

a.      Penanganan psikodinamika : terhadap depersi secara tradisional berfokus pada membantu orang yang depresi untuk membuka dan menggali perasaan ambivalen mereka terhadap objek yang hilang, pendekatan psikodinamika modern cenderung lebih langsung dan lebih singkat serta lebih berfokus pada mengembangkan cara-cara yang adaptif dalam mencapai self woth dan menyelesaikan konflik-konflik interpersonal.
b.      Pendekatan teori belajar : berfokus pada membantu orang dengan depresi meningkatkan frekuensi reinforcement dalam kehidupan mereka melalui cara-cara seperti meningkatkan jumlah aktifitas yang menyenangkan dimana mereka berpartisipasi dan membimbing mereka dalam mengembangkan keterampilan sosial yang lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam memperoleh reinforcement sosial dari orang lain.
c.      Terapi kognitif : berfokus pada membantu orang tersebut mengidentifikasi dan memperbaiki pikiran-pikiran yang terdistorsi dan disfungsional serta mempelajari lebih banyak perilaku yang adaptif.
d.      Pendekatan biologis : berfokus pada penggunaan obat-obatan anti depresan dan pengobatan biologis lainnya, seperti elektrokonvulsif (ECT). Obat-obatan anti depresan dapat membantu menormalkan fungsi transmitter dalam otak gangguan bipolar biasanya diobati dengan litium.

Gangguan-Gangguan Depresi (gangguan unipolar)


Gangguan-gangguan depresi  (gangguan unipolar), gangguan depresi dianggap unipolar karena gangguan ini terjadi hanya pada satu arah atau kutub emosional – ke bawah.
1.    Gangguan depresi mayor
Gangguan depresi mayor, yaitu salah satu gangguan yang dialami seseorang yang terjadinya satu atau lebih periode atau episode (episode depresi mayor) tanpa ada riwayat terjadinya episode manik atau hipomanik alami. Seorang dapat mengalami satu episode depresi mayor yang diikuti dengan kembalinya mereka pada keadaan fungsional yang biasa. Umumnya orang yang pernah mengalami episode depresi mayor dapat kambuh lagi di antara periode normal atau kemungkinan mengalami hendaya pada fungsi-fungsi tertentu.
2.    Gangguan distimik
Pola depresi ringan (tetapi mungkin saja menjadi mood yang menyulitklan pada anak-anak atau remaja) yang terjadi dalam suatu rentang waktu- pada orang dewasa, biasanya dalam beberapa tahun.
A.   DESKRIPSI KLINIS
Gejala-gejala gangguan menurut DSM-IV:
a.    Mood sedih dan tertekan, hampir sepanjang hari, hampir setiap hari selama dua minggu atau kehilangan minat dan kesenangan dalam aktivitas yang bisa dilakukan, di tambah sekurang – kurangnya empat gejala berikut. ini
b.    Sulit tidur ( insomnia) pada awalnya tidak dapat tidur tidak dapat kembali tidur bila terbangun di tengah malam, dan terbangun pada dini hari atau pada beberapa pasien , keinginan untuk tidur selama mungkin.
c.    Suatu kehilangan atau pertambahan berat badan yang signifikan (5% lebih dari berat tubuh dalam sebulan), tanpa upaya apapun untuk berdiet, atau suatu peningkatan atau penurunan dalam selera makan.
d.    Perubahan kadar aktivitas, menjadi lemas (retardasi psikomotorik) atau terlalu bersemangat
e.    Perasaan lelah atau kehilangan energi hampir setiap hari.
f.     Perasaan tidak berharga atau salah tempat atau pun rasa bersalah yang berlebihan atau tidak tepat hampir setiap hari.
g.    Berkurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi atau berpikir jernih atau untuk membuat keputusan hampir setiap hari.
h.    Pikiran yang muncul berulang tentang kematian atau bunuh diri tanpa suatu rencana yang spesifik atau munculnya suatu percobaan bunuh diri, atau rencana yang spesifik untuk melakukan bunuh diri.

Pada PPDGJ episode depresif memiliki gejala utama ( pada derajat ringan, sedang, dan berat) yaitu efek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktifitas. Dan gejala lainnya yaitu : konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, tidur terganggu, nafsu makan berkurang, dan gagasan dan perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri.
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang – kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan  berlangsung cepat.
Dalam bukunya psikologi abnormal David H Barlow mengatakan beberapa Kriteria gangguan episode Depresi :
1.   Kehilangan interes atau perasaan senang yang sangat di dalam menjalani sebagian besar aktifitas sehari – hari
2.   Agittasi atau retardasi psikomotorik
3.   Perasaan tak- berharga atau perasaan bersalah yang eksesif
4.   Kemampuan berfikir atau berkonsentrasi yang menurun
5.   Distress dan hendaya yang signifikan secara klinis
6.   Berlangsung untuk jangka waktu lebih dari 2 bulan
7.   Tidak berhubungan dengan bela sungkawa karena kehilangan seseorang